Monday, 4 May 2009

La vita è bella


Setelah selesai kuliah sore ini, gw mampir ke acara Festival Budaya Roman. Saat pemutaran film Italia berjudul La vita è bella (Life is Beautiful). Sebelumnya gw uda pernah nonton film yang diaugerahi 3 Oscar pada akhir tahun 90-an, tapi karena udah lama ga pernah nonton film ini jadi kangen. Dari film ini kita bisa belajar banyak tentang indahnya sebuah dunia jika kita memandangnya dari sudut pandang yang berbeda. Dunia memang tidak adil dan kejam. Dan hidup ini adalah sebuah perjalanan, kadang terasa lelah sangat lelah. Film ini sungguh menyentuh hati dan sangat menyedihkan tapi si penulis cerita jenius banget menyulap film yang mengharukan menjadi stunning bgt.

Di awal film menceritakan tentang Guido(Roberto Benigni yang juga menjadi director dan co-writer untuk film ini), seorang Yahudi Italia, dan seorang kawannya tiba di Arrezo, Italy untuk membantu Paman Eliseo (Giustino Durano), sebagai pelayan restoran. Karekter Guido yang lucu dan karismatik membuat film ini terasa spesial. Apalagi semenjak kisah percintaannya dengan Dora (Nicoletta Braschi) yang begitu mengesankan. Aneh tapi tak biasa. Kebiasaan Guido yang muncul tiba-tiba dihadapan Dora dan menyapa dengan kalimat “Selamat Pagi, Putri” membuat Dora terkesan. Namun tidak semudah itu itu mendapatkan sang putri, sikap konyolnya yang biasa ia lakukan mendadak pupus saat melayani para tamu undangan di pesta pertunangan Dora. Seperti kata pepatah, kalau jodoh memang tak akan kemana, Dora meminta Guido untuk membawanya kabur hingga akhirnya mereka menikah dan memiliki anak bernama Joshua (Giosué Orefice).


Pada hari ultan tahun Joshua ke-5, Guido, Paman Eliseo, dan Joshua ditangkap oleh tentara Jerman ke kamp Nazi. Sedangkan sang ibu yang tadinya tak tertangkap meminta bergabung dengan keluarganya. Walau tidak bertemu di kamp itu, Guido memberikan kejutan kepada Dora dengan memakai pengeras suara untuk menyapa sang putri bersama Joshua. Dora yang mendengar suara suami dan anaknya pun terharu.


Fase mereka tertangkap tentara Nazi adalah hal yang paling menyedihkan, namun penonton dibuat amat terkesan sehingga berdecak kagum. Guido menyembunyikan Joshua dari tentara Nazi. Sebagai usahanya menyemangati Joshua, Guido meyakinkannya bahwa kemah itu adalah permainan. Sebuah permainan yang mengharuskan pemenangnya mengumpulkan point 1000 dengan hadiah utama Tank besar yang merupakan mainan favorit Joshua. Sang ayah memberitaukan peraturan, jika mengkomplain karena lapar akan kehilangan point dan anak-anak yang lain bersembunyi untuk memenangkan permainan. Kisah ini ditutup dengan kesedihan dan kebahagian yang tiada tara yang membuat kita tersadar bahwa kita harus semangat menjalani hidup dan menghargai hidup disaat susah sekalipun.

3 comments:

  1. wew, jadi pengen nontn Rif...

    ReplyDelete
  2. WAJIB nonton ja. ini film keren abis! best movie-nya Itali

    ReplyDelete
  3. iya, emang keren banget..

    ReplyDelete